Skip to main content

PERBEDAAAN TEORI KONFLIK



A.    Teori Konflik Marx
Beberapa pandangan Marx tentang kehidupan sosial yaitu:[1]
  • Masyarakat sebagai arena yang di dalamnya terdapat berbagai bentuk pertentangan.

  • Negara dipandang sebagai pihak yang terlibat aktif dalam pertentangan dengan berpihak kepada kekuatan yang dominan.
  • Paksaan dalam wujud hukum dipandang sebagai faktor utama untuk memelihara lembaga-lembaga sosial seperti milik pribadi, perbudakan, kapital yang menimbulkan ketidaksamaan hak dan kesempatan. Kesenjangan sosial terjadi dalam masyarakat karena bekerjanya lembaga paksaan tersebut yang bertumpu pada cara-cara kekerasan, penipuan dan penindasan. Dengan demikian, titik tumpu dari konflik sosial adalah kesenjangan sosial.

  • Negara dan hukum dilihat sebagai alat penindasan yang digunakan oleh kelas yang berkuasa demi keuntungan mereka.
  • Kelas-kelas dianggap sebagai kelompok kelompok sosial yang mempunyai kepentingan sendiri yang bertentangan satu sama lain, sehingga tak terelakan.
  1. Konflik Realistis, berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan- tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan, dan yang ditujukan pada obyek yang dianggap mengecewakan. Contohnya para karyawan yang mogok kerja agar tuntutan mereka berupa kenaikan upah atau gaji dinaikkan.
  1. Konflik Non-Realistis, konflik yang bukan berasal dari tujuan- tujuan saingan yang antagonis, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak. Coser menjelaskan dalam masyarakat yang buta huruf pembasan dendam biasanya melalui ilmu gaib seperti teluh, santet dan lain- lain. Sebagaimana halnya masyarakat maju melakukan pengkambinghitaman sebagai pengganti ketidakmampuan melawan kelompok yang seharusnya menjadi lawan mereka.

x

Secara umum pendekatan konflik ini diantaranya: sebagaimana yang dikemukakan oleh Karl Marx yang memandang masyarakat terdiri dari dua kelas yang didasarkan pada kepemilikan sarana dan alat produksi, yaitu kelas borjuis dan proletar. Kelas bourjuis adalah kelompok yang memiliki alat produksi dan sarana yang dalam hal ini adalah perusahaan sebagai modal dalam usaha. Kelas proletar adalah kelas yang tidak memiliki sarana dan alat produksi sehingga dalam pemenuhan akan kebutuhan ekonominya hanyalah tidak lain menjual tenaganya.
Menurut Marx masyarakat terintegrasi karena adanya struktur kelas dimana kelas borjuis menggunakan negara dan hukum untuk mendominasi kelas proletar. Konflik antar kelas sosial terjadi melalui proses produksi sebagai salah satu kegiatan ekonomi dimana dalam proses produksi terjadi kegiatan pengeksploitasian terhadap kelompok proletar oleh kelompok borjuis. Perubahan sosial justru membawa dampak yang buruk bagi kaum buruh karena perubahan sosial berdampak pada semakin banyaknya jumlah penduduk. Pertambahan jumlah penduduk akan meyulitkan kehidupan kelompok proletar karena tuntutan akan lapangan pekerjaan semakin tinggi sementara jumlah lapangan kerja yang tersedia tidak bertambah (konstan). Tingginya jumlah penawaran tenaga kerja akan berpengaruh pada ongkos tenaga kerja yang diterimanya, sehingga kehidupan selanjutnya justru kian buruk. Sementara kehidupan kapitalis akan semakin berlimpah dengan segala macam kemewahannya.
Gejala inilah yang pada akhirnya menimbulkan ketimpangan sosial yang berujung pangkal pada konflik sosial. dengan demikian, akar permasalahan yang menimbuulkan konflik sosial adalah karena ketajaman ketimpangan sosial berikut eksploitasinya. 

B.     Teori Ralf Dahrendorf
Dalam karya Dahrendorf pendirian teori konflik dan teori fungsional disejajarkan, menurut para fungsionalis masyarakat adalah statis atau masyarakat berada dalam keadaan berubah secara seimbang. Tetapi menurut Dahendorf dan teoritis konflik lainya setiap masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan, fungsionalis menekankan pada keteraturan masyarakat sedangkan teoritisi konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial.
Dahendorf adalah tokoh utama yang berpendirian bahwa masyarakat mempunyai dua wajah (konflik dan konsensus) teoritisi konsensus harus menguji nilai integrasi dalam masyarakat dan teoritisi konflik harus menguji konflik kepentingan dan penggunaan kekerasan yang mengikat masyarakat bersama dihadapan tekanan itu. Dahendorf mengakui bahwa masyarakat tak akan ada konsensus dan konflik menjadi persyaratan satu sama lain, jadi kita tak akan punya konflik kecuali ada konsensus sebelumnya.
Meski ada hubungan timbal balik antara konsensus dan konflik Dahendorf tak optimis mengenai pengembangan teori sosiologi tunggal yang mengcakup kedua proses itu, dia menyatakan “mustahil menyatukan teori untuk menerangkan masalah yang telah membingungkan pemikir sejak awal perkembangan filsafat barat” (1959:168). Untuk menghindarkan diri dari teori tunggal itu Dahendorf membangun teori konflik masyarakat.
Aspek terakhir teori konflik Dahendorf adalah hubungan konflik dengan perubahan. Dalam hal ini Dahendorf mengakui pentingnya pemikiran Lewis Coser yang memusatkan perhatian pada fungsi konflik dalam mempertahankan status quo tetapi Dahendorf menganggap fungsi konservatif dari konflik hanyalah satu bagian realita sosial; konflik juga meyebabkan perubahan dan perkembangan.
Dahendorf menyatakan bahwa segera setelah kelompok konflik muncul, kelompok itu melakukan tindakan yang menyebabkan perubahan dalam struktur sosial. Bila konflik itu hebat, perubahan yang terjadi adalah radikal, bila konflik disertai tindakan kekerasan akan terjadi perubahan struktur secara tiba-tiba, apapun ciri konflik sosiologi harus membiasakan diri dengan hubungan antara konflik dan perubah maupun dengan hubungan antara konflik dan status quo.
Kritik utama dan upaya untuk menghadapinya
Teori konflik telah dikritik dengan berbagai alasan. Misalnya teori ini diserang karena mengabaikan ketertiban dan stabilitas, sedangkan fungsionalisme struktural diserang karena mengabaikan konflik dan perubahan, teori konflik juga dikritik karena ideologinya konservatifnya. Bila dibandingkan dengan fungsionalisme struktural, teori konflik tergolong tertinggal perkembanganya. Teori ini hampir tak secanggih fungsionalisme mungkin karena teori turunan.
Teori konflik Dahendorf menjadi subjek dari sejumlah analisis kritis (analisis Hazelrigg), termasuk pemikiran kritis oleh Dahendorf sendiri (1968). Hasil analisis kritis itu sebagai berikut Dahendorf tak jelas menjerminkan pemikiran Maxian seperti yang ia nyatakan sebenarnya teori konflik ini merupakan terjemahan yang yang tak memadai dari teori Maxian ke dalam sosiologi, teori konflik lebih banyak kesamaanya dengan fungsionalisme struktural ketimbang dengan teori Maxian.
Fungsionalisme dan teori konflik Dahendorf adalah tak memadai karena masing-masing hanya berguna untuk menerangkan sebagian saja dari kehidupan sosial. Sosiologi harus mampu menerangkan ketertiban maupun konflik struktur maupun perubaha.  Bila kita tertarik dengan konflik, kita dapat menggunakan teori konflik; bila kita ingin meneliti ketertiban kita harus menggunakan perspektif fungsional.
Kritik yang dilancarkan terhadap teori konflik dan fungsionalime struktural maupun kekurangan yang mendekati didalam masing-masing teori itu, menimbulkan beberapa upaya untuk mengatasi masalahnya dengan merekomendasikan atau mengintegrasikan kedua teori itu, asumsinya adalah bahwa dengan kombinasi maka kedua teori itu akan menjadi lebih kuat ketimbang masing-masing berdiri sendiri. Karya paling terkenal yang mencoba mengintegrasikan kedua perspektif ini berasal dari Lewis Coser “the fungtion of social conflict (1956)”. Pemikiran awal tentang fungsi konflik sosial berasal dari Georg Simmel tetapi diperluas oleh Coser yang menyatkan bahwa konflik dapat membantu mengeratkan ikatan kelompok yang strujtur secara longgar.masyarakat yang mengalami konflik dengan masyarakat lain dapat memperbaiki kepaduan disintegrasi
Konflik juga membantu fungsi komunikasi. Sebelum konflik, kelompok-kelompok mungkin tidak percaya terhadap posisi musuh mereka tetapi akibat konflik posisi dan batas antar kelompok ini sering menjadi diperjelas. Karena itu individu bertambah mampu memutuskan untuk mengambil tindakan yang tepat dalam hubunganya dengan musuh mereka. Konflik juga memungkinkan pihak yang bertikai menemukan ide yang lebih baik mengenai ide yang lebih baik mengenai kekuatan relatif mereka dan meningkatkan kemungkinan untuk saling mendekati atau saling berdamai.
Selagi sejumlah teoritisi mencoba mengintegrasikan teori konflik dengan fungsionalisme struktural, ada beberapa teoritisi yang tak ingin memberi peran lagi kepada teori konflik misalnya Andrea Gunder frank, seorang Marxis 1966/1974 menolak teori konflik karena teori itu mencerminkan bentuk yang tak memadai dari teori Marxan.

C.    Teori Konflik Lewis A. Coser
Konflik dapat merupakan proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menempatkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok.[2]. Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya.
Seluruh fungsi positif konflik tersebut dapat dilihat dalam ilustrasi suatu kelompok yang sedang mengalami konflik dengan kelompok lain. Misalnya, pengesahan pemisahan gereja kaum tradisional (yang memepertahankan praktik- praktik ajaran katolik pra- Konsili Vatican II) dan gereja Anglo- Katolik (yang berpisah dengan gereja Episcopal mengenai masalah pentahbisan wanita). Perang yang terjadi bertahun- tahun yang terjadi di Timur Tengah telah memperkuat identitas kelompok Negara Arab dan Israel.
Coser melihat katup penyelamat berfungsi sebagai jalan ke luar yang meredakan permusuhan, yang tanpa itu hubungan- hubungan di antara pihak-pihak yang bertentangan akan semakin menajam. Katup Penyelamat (savety-value) ialah salah satu mekanisme khusus yang dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik sosial. Katup penyelamat merupakan sebuah institusi pengungkapan rasa tidak puas atas sebuah sistem atau struktur. Bagi Coser konflik dibagi menjadi dua, yaitu:
Menurut Coser terdapat suatu kemungkinan seseorang terlibat dalam konflik realistis tanpa sikap permusuhan atau agresi. Contoh: Dua pengacara yang selama masih menjadi mahasiswa berteman erat. Kemudian setelah lulus dan menjadi pengacara dihadapkan pada suatu masalah yang menuntut mereka untuk saling berhadapan di meja hijau. Masing- masing secara agresif dan teliti melindungi kepentingan kliennya, tetapi setelah meniggalkan persidangan mereka melupakan perbedaan dan pergi ke restoran untuk membicarakan masa lalu.[3]


[1] Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, (2011), hal.364-365.
[2] George Ritzer-Douglas J. Goodman, teori sosilogi modern. Jakarta : Kencana, 2004. Hal 153-162
[3] https://www.google.com diunduh 22 Oktober 2014 pukul 15:17 WIB

Comments

  1. Kini DEWALOTTO hadir lebih lengkap lohh dengan beragam permainan seperti :
    TOGEL, BOLA, POKER, SLOT GAMES, SABUNG AYAM, TEMBAK IKAN, BATU GONCANG dll
    kami sajikan untuk anda semua dan proses cepat yang kami tawarkan untuk melayanin anda 24 jam penuh
    silahkan yukk bergabung dengan kami hanya dengan modal 20rb saja
    anda bisa memenangkan uang puluhan bahkan ratusan juta rupiah dengan nyata lohh
    silahkan di coba peruntungan anda bersama kami pendaftaran gratis modal 20ribu saja yukk di add WA : +855 69312579
    link daftar : http:// www.dewalotto.club

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

TEKNIK PENYUSUNAN SOAL PILIHAN GANDA (PG), BENAR SALAH, DAN MENJODOHKAN

A.Teknik dan Kaidah Penyusunan SoalPengertian soal dalam pembelajaran tidak dapat dipisahkan dengan pengertian tes. Soal sebagai bentuk tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dengan cara dan aturan aturan yang sudah

TEORI PRODUKSI DAN BIAYA PRODUKSI